Para Dokter Pun Berjuang untuk Menyusui

Seorang ibu sedang menyusui bayinya. (Foto:Ilustrasi/UNICEF)

Meski para dokter lebih mungkin menyusui paling tidak hingga satu tahun dibandingkan dengan para ibu lainnya, kurang dari sepertiga dokter perempuan bisa meneruskan menyusui selama yang mereka inginkan, menurut sebuah studi Amerika Serikat.

Secara keseluruhan, sekitar 42 persen dokter perempuan yang juga menjadi ibu, menyusui hingga setidaknya satu tahun, dibandingkan dengan 27 persen perempuan secara nasional, para peneliti menulis dalam laporan yang terbit di JAMA Internal Medicine.

Meski demikian, setengah dari para dokter yang juga ibu, mengatakan mereka berhenti menyusui lebih cepat dari yang seharusnya, bila pekerjaan mereka lebih membantu. Hanya 28 persen yang mengatakan mereka terus menyusui hingga mencapai tujuan masa menyusui.

“Kami menunjukkan cuti hamil yang lebih panjang, jadwal kerja yang lebih ramah untuk memompa asi dan tempat khusus untuk menyusui berhubungan dengan masa menyusui yang lebih panjang,” kata penulis studi, Dr. Nelya Melnitchouk dari Harvard Medical School dan Bringham dan Women’s Hospital di Boston.

“Sebagai seorang dokter, kami diajari untuk memberikan contoh dan kami bisa mulai dengan tempat kerja yang lebih ramah untuk mendukung masa menyusui,” kata Melnitchouk melalui email.

Para ibu lainnya mungkin juga akan punya kesempatan menyusui yang lebih baik, bila dokter mereka memberikan contoh, kata Meltnitchouk menambahkan.

Para dokter anak merekomendasikan para ibu untuk menyusui bayi secara ekslusif hingga usia enam bulan karena bisa mengurangi risiko bayi terkena infeksi telinga dan pernafasan, sindrom kematian mendadak, alergi, obesitas dan diabetes.

Bagi para ibu, menyusui hingga setidaknya satu tahun berhubungan dengan risiko depresi yang lebih rendah, obesitas dan beberapa penyakit kanker.

Hasil dari studi saat ini diambil dari survei online tanpa nama yang dilakukan oleh 2.363 anggota grup media sosial dokter perempuan yang memiliki anak. Perempuan yang saat ini sedang menyusui tidak diikutsertakan dalam penelitian. Hampir semua peserta studi, sekitar 94 persen, telah menyusui setidaknya beberapa waktu.

Kebanyakan perempuan yang menggunakan alat pemompa ASI, mengatakan mereka memerah ASI di kantor mereka. Sedangkan 19 persen menggunakan ruang laktasi, 13 persen menggunakan ruang dinas, 14 persen memerah ASI di dalam mobil dan 21persen memerah ASI di ruang-ruang pasien yang kosong.

Halangan yang paling umum untuk melanjutkan menyusui adalah tidak cukup waktu untuk memerah ASI pada hari-hari kerja dan jadwal yang tidak fleksibel, dilanjutkan dengan kurangnya ruang untuk memerah.

Meski demikian, beberapa halangan yang dihadapi perempuan sudah mengakar dan termasuk kurangnya waktu, stigma, diskriminasi dan persepsi bahwa perempuan tidak punya etika kerja yang kuat ketika mereka menjalankan tanggung jawab sebagai seorang ibu, kata Patricia Davidson, dekan Johns Hopskins School of Nursin di Baltimore.

“Temuan paling penting dari studi ini adalah para perempuan berpendidikan, dengan pilihan, menghadapi halangan-halangan besar,” kata Davidson, yang tidak terlibat dalam studi itu, melalui email. “Dalam dialog uang, seks, dan kekuasaan, sangat menakutkan untuk memikirkan pengalaman para perempuan lain yang tidak berpendidikan, tidak berdaya dan memiliki pilihan terbatas untuk penghasilan.”

“Menggabungkan menyusui, khususnya memerah ASI di tempat kerja, membutuhkan dedikasi, komitmen, tapi yang lebih penting dukungan dari para rekan kerja dan budaya yang mendukung,” kata Davidson.